
Sabtu Kelabu di Yogyakarta
Yogyakarta di hari Sabtu pagi, 27 Mei 2006, baru saja memulai kehidupannya. Ketika jarum jam menunjukkan 05.54, bumi tiba-tiba menggeliat keras, menghentak, menghantam apa saja yang tersangga, melemparkannya, dan meluluhlantakkannya. Tanah dan segala yang ada di atasnya berayun-ayun keras bagai dihempas gelombang raksasa. Gempa tektonik berkekuatan 5,9 SR tak ayal mengubah wajah Yogyakarta dalam sekejap. Dari kota yang biasa disibukkan dengan kegiatan pendidikan berubah menjadi kota yang suram penuh jerit dan ratap tangis.
Tanah merekah dan menutup kembali, mencabut pepohonan, dan meratakan segalanya. Kehidupan tiba-tiba membeku, bahkan burungpun tiada lagi bersuara. Gempa tanpa ampun juga merobohkan bangunan-bangunan megah, super mall, gedung sekolah, pasar tradisional, rumah kampung, hotel, Candi Prambanan, juga Kraton dan seluruh desanya.
Kabupaten Bantul, Gunung Kidul, dan Yogya bagian selatan adalah daerah yang mengalami penderitaan paling parah. Sekitar 6000 orang meninggal dunia, dan lebih dari 30.000 orang luka berat dan ringan. Gempa juga menyebabkan ratusan ribu warga Yogyakarta sempat kehilangan tempat tinggal dan ruang sosial. Ketakutan tak hilang dalam sekejap, karena gempa-gempa susulan masih terus berlangsung,.
Apakah gerangan yang akan disampaikan Tuhan? Begitu mungkin desa warga Yogyakarta kini berada di titik nadir. Hidup jelas harus dihadapi, betapapun kecil keniscayaan yang terjanjikan. Diperlukan ketegaran dan kemauan untuk tetap melangkah, dengan segenggam harapan.